*NGOMONG TANPA BUKTI ?. YAYAT DARMAWI : ITU BUKAN HUKUM TAPI OPINI*

Mitratnipolri.id. Pontianak – Kalbar. Ketua DPD YLBH LMRRI Kalimantan Barat, Yayat Darmawi, SE, SH, MH, menegaskan bahwa bukti ilmiah merupakan elemen paling krusial dalam membangun kebenaran yang objektif, baik dalam dunia akademik maupun proses penegakan hukum.
Menurut Yayat Darmawi, bukti ilmiah adalah informasi yang dikumpulkan melalui metode yang ketat, terukur, dan terstandarisasi guna mendukung atau membantah suatu teori maupun hipotesis ilmiah. Bukti tersebut bersumber dari data dan hasil observasi yang diperoleh melalui eksperimen laboratorium, kajian lapangan, maupun analisis mendalam berbasis metode ilmiah.
“Bukti ilmiah bukan sekadar opini atau dugaan. Ia lahir dari proses yang sistematis, dapat diuji, diuji ulang, dan diverifikasi oleh pihak lain. Inilah yang membedakan antara persepsi dan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan,” tegas Yayat.
Bukti Ilmiah: Pilar Objektivitas
Yayat menjelaskan bahwa tujuan utama dari bukti ilmiah adalah untuk memberikan landasan objektif dan bebas bias dalam menjelaskan suatu fenomena. Dengan dasar tersebut, suatu klaim dapat diuji secara rasional dan tidak hanya bertumpu pada asumsi atau kepentingan tertentu.
Pengumpulan bukti ilmiah pun dilakukan melalui tahapan yang jelas, mulai dari:
Pengamatan terstruktur
Percobaan terkontrol
Pengumpulan data yang terukur
Analisis sistematis
Verifikasi melalui tinjauan sejawat (peer review)
Semua tahapan ini bertujuan memastikan bahwa kesimpulan yang diambil benar-benar memiliki validitas dan reliabilitas yang tinggi.
Peran Strategis dalam Proses Ilmiah dan Hukum
Lebih lanjut, Yayat Darmawi memaparkan bahwa bukti ilmiah memainkan peran strategis dalam berbagai aspek, antara lain:
Mendukung atau membantah suatu klaim
Bukti yang kuat dapat meningkatkan atau justru menurunkan keyakinan terhadap suatu teori.
Menggugurkan asumsi yang tidak berdasar
Fakta ilmiah mampu mematahkan spekulasi dan opini yang tidak memiliki dasar metodologis.
Menguji prediksi
Digunakan untuk membuktikan validitas suatu pernyataan melalui penelitian lanjutan.
Mengembangkan teori ilmiah
Jika sebuah hipotesis terus didukung oleh bukti yang konsisten, ia dapat berkembang menjadi teori yang diterima secara luas.
Adapun contoh bentuk bukti empiris yang sering digunakan antara lain:
Analisis DNA
Rekaman CCTV
Hasil digital forensik
Data geospasial
Sampel lingkungan
Data laboratorium forensik
“Dalam konteks hukum, bukti ilmiah seperti tes DNA, uji balistik, atau digital forensik kini menjadi senjata penting untuk mengungkap fakta yang sebenarnya. Ia memberikan dasar rasional bagi hakim dalam mengambil keputusan,” ujarnya.
Kualitas Bukti Menentukan Keadilan
Yayat menekankan bahwa kekuatan sebuah bukti tidak hanya ditentukan oleh bentuknya, tetapi oleh kualitas cara pengambilan, keakuratan analisis, serta keterulangan hasilnya. Semakin ketat metode yang digunakan, maka semakin tinggi pula kredibilitas bukti tersebut di mata hukum dan ilmu pengetahuan.
Ia pun mengingatkan bahwa masyarakat tidak boleh mudah terjebak oleh informasi yang tidak disertai data valid.
ASDI AS SE

















