Example floating
Example floating
News

743 SISWA DAN 50 GURU SMAN 1 RASAU JAYA TOLAK MBG : MENU TAK LAYAK, STANDAR GIZI DIPERTANYAKAN

392
×

743 SISWA DAN 50 GURU SMAN 1 RASAU JAYA TOLAK MBG : MENU TAK LAYAK, STANDAR GIZI DIPERTANYAKAN

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

*743 SISWA DAN 50 GURU SMAN 1 RASAU JAYA TOLAK MBG : MENU TAK LAYAK, STANDAR GIZI DIPERTANYAKAN*

Example 300x600

Mitratnipolri.id. Kubu Raya, Kalbar. – Gelombang penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Sebanyak 743 siswa dan 50 guru di SMAN 1 Rasau Jaya secara kompak mengembalikan paket MBG yang dibagikan pada Selasa (24/2/2026).

 

Langkah tersebut diambil setelah pihak sekolah menilai komposisi menu yang diterima tidak memenuhi standar gizi seimbang serta dinilai tidak proporsional untuk kebutuhan dua hari konsumsi.

*MENU 2 HARI, ISI MINIM PROTEIN*

 

Guru SMAN 1 Rasau Jaya, Vivi Awalia, menyampaikan bahwa keputusan pengembalian dilakukan setelah guru dan siswa bersama-sama melihat isi paket.

 

“Menurut kami menu yang diberikan tidak sesuai, baik dari segi budget maupun pemenuhan gizinya. Bukan hanya guru yang menolak, anak-anak juga menolak,” ujarnya.

 

Menu MBG yang dibagikan untuk jatah dua hari terdiri dari :

 

– Setengah tongkol jagung

– Lima butir kurma

– Tiga buah kelengkeng

– Satu buah jeruk

– Satu kue pisang cokelat (piscok)

– SAtu bolu kukus

 

Menurut pihak sekolah, menu tersebut didominasi buah dan makanan ringan, tanpa sumber protein hewani maupun nabati yang memadai.

 

“Itu untuk menu dua hari. Wajar jika kami menolak,” tegas Vivi.

 

Bagi siswa tingkat SMA yang berada dalam fase pertumbuhan dan memiliki aktivitas belajar tinggi, asupan protein dan energi menjadi kebutuhan utama. Tanpa komponen tersebut, label “bergizi” dianggap tidak terpenuhi secara substansi.

 

*PENOLAKAN DISEBUT BENTUM EVALUASI*

 

Pihak sekolah menegaskan, pengembalian paket bukan bentuk penolakan terhadap kebijakan pemerintah. Sebaliknya, ini merupakan kritik konstruktif agar program dapat dievaluasi.

 

“Penolakan kami bermaksud agar jadi bahan evaluasi dan ada perubahan yang lebih baik,” jelas Vivi.

 

Menurutnya, program dengan nomenklatur “bergizi” semestinya memastikan keseimbangan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral dalam takaran cukup, bukan sekadar pembagian makanan kering dengan kuantitas terbatas.

 

*TANGGAPAN PENGELOLA MBG KALBAR*

 

Sementara itu, Kepala Program MBG Region Kalbar, Agus Kurniawi, menjelaskan bahwa selama Ramadan menu memang disesuaikan dengan standar operasional prosedur (SOP).

 

Menurutnya, menu Ramadan berupa makanan kering seperti telur, buah, roti, kurma, atau makanan khas lokal, guna menghindari risiko basi dan makanan bercita rasa pedas.

 

“Menu Ramadan itu memang menu kering. Tidak dianjurkan menggunakan makanan yang cepat basi,” ujarnya.

 

Ia menegaskan bahwa prinsip gizi seimbang tetap menjadi pedoman, serta keamanan pangan dijaga melalui pengecekan masa kedaluwarsa dan izin PIRT. Produk ultra-processed food (UPF), lanjutnya, tidak dijadikan menu utama.

 

Distribusi dilakukan pada pagi hari agar siswa dapat membawa pulang makanan untuk dikonsumsi saat berbuka puasa.

 

*ANTRA SOP DAN REALITAS LAPANGAN*

 

Meski ada penjelasan dari pengelola, pihak sekolah menilai implementasi di lapangan tetap perlu dikaji ulang. Pertanyaan mendasar yang muncul antara lain:

 

– Apakah standar gizi MBG untuk tingkat SMA sudah jelas dan terukur?

– Bagaimana pengawasan kualitas menu sebelum didistribusikan?

– Apakah alokasi anggaran sebanding dengan komposisi makanan yang diterima siswa?

 

Penolakan massal oleh ratusan siswa dan guru ini menjadi indikator bahwa ada jarak antara perencanaan program dan realisasi di lapangan.

 

*MOMENTUM PEMBENAHAN*

 

Kasus di SMAN 1 Rasau Jaya menjadi sinyal penting bagi pemangku kebijakan untuk melakukan evaluasi menyeluruh, terutama dalam konteks pelaksanaan MBG selama Ramadan.

 

Program strategis nasional tidak cukup dinilai dari capaian angka distribusi semata. Kualitas, kandungan gizi, serta penerimaan penerima manfaat menjadi parameter utama keberhasilan.

 

Hingga berita ini disusun, belum ada pernyataan lanjutan terkait langkah konkret yang akan diambil pengelola MBG di Kubu Raya menyikapi pengembalian paket tersebut.

Asdi AS SE

Tim Liputan

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *