- *Dorong Pelestarian Sejarah Sambas, Seminar “Meluruskan Sejarah Kerajaan Sambas” Siap Digelar di Sambas.*⋅
Mitratnipolri.id. Pontianak, Kalbar – Upaya penguatan nilai sejarah dan budaya kembali digaungkan melalui rencana pelaksanaan seminar bertajuk “Meluruskan Sejarah Kerajaan Sambas” yang digagas oleh berbagai tokoh masyarakat dan budaya di Sambas.
Gagasan ini mencuat dalam perbincangan yang berlangsung pada Kamis, 2 April 2026 di kawasan Warkop Ahie, Kota Baru, Pontianak. Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah tokoh, di antaranya Yanuar Ahadin [ Aad ] selaku Ketua Penggerak Kesultanan Sambas Darussalam, Giffarian yang merupakan tokoh masyarakat Sambas sekaligus mantan anggota DPRD Sambas, serta Yayat Darmawi, Ketua DPD Yayasan Lembaga Bantuan Hukum LMRRI Kalimantan Barat, serta Fredy Legito.
*Angkat Peran Meluruskan sebagai “Perekam Sejarah”*
Seminar bertajuk “Meluruskan Sejarah Kerajaan Sambas” ini bertujuan untuk mendorong penguatan budaya serta sejarah secara Objektive untuk merubah opini opini negative dengan menyoroti merupakan peran penting melukis sejarah secara komprehensive dalam mendokumentasikan berbagai momen bersejarah serta keagungan budaya Kerajaan Sambas.
Dalam konsepsi berfikirnya yang dirancang, melukis tidak hanya dipandang sebagai sejarah secara subjektive dengan berbagai argumentasi yang rancu, tetapi juga sebagai “perekam visual” yang mampu mengabadikan peristiwa penting dalam bentuk yang sebenarnya jadi sejarah kerajaan sambas tidak hanya ditulis yang dibangun dari argumentasi fiksi, tetapi juga divisualisasikan secara nyata dan realita sehingga lebih mudah dipahami oleh generasi penerus.
Dalam perbincangan tersebut, Yanuar Ahadin [ Aad ] menegaskan bahwa kerajaan sambas darussalam memiliki posisi strategis dalam menjaga warisan budaya.
> “Melukiskan sejarah bukanlah hanya sekedar berkarya, tetapi juga merekam perjalanan sejarah dan kebudayaan sambas. Ini penting agar generasi mendatang tidak kehilangan jejak identitas sejarahnya,” ujarnya.
*Terintegrasi dengan Pameran Koleksi Etnografi*
Kegiatan ini juga direncanakan akan dikaitkan dengan koleksi etnografi. Kisah sejarah tersebut berfungsi sebagai bukti sejarah sekaligus upaya konkret dalam memperkuat identitas budaya masyarakat sambas.
Koleksi etnografi yang ditampilkan nantinya diharapkan mampu memberikan gambaran nyata mengenai perjalanan sejarah, tradisi, serta kearifan lokal yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.
*Perkuat Kesadaran Budaya Melalui Pendekatan Visual.*
Melalui pendekatan visual, seminar ini diharapkan untuk dapat mendorong masyarakat lebih memahami, mengetahui dan menghargai sejarah serta budaya sambas secara utuh, Karya melukis sejarah sambas dinilai memiliki kekuatan dalam menyampaikan pesan sejarah secara emosional, proporsional dan Nyata.
Giffarian dalam kesempatan ini juga memberikan pandangannya terkait pentingnya kegiatan seminar ini agar terbentuknya kebenaran sejarah bukan melencengkan sejarah kerajaan sambas, katanya.
> “Pendekatan sejarah secara Benar melalui pelurusan seperti ini sangatlah efektif. Masyarakat akan lebih mudah memahami sejarah jika disampaikan secara visual, proporsional dan menyentuh sisi emosionalitas sejarah yang berbasis kebenaran” ungkapnya.
*Perspektif Hukum dalam Pelestarian Sejarah*
Sementara itu, Yayat Darmawi, SE,SH,MH, Turut memberikan Advis pemahaman dari persfektive Hukum terkait pentingnya menjaga sejarah dan budaya sambas sesuai dengan kebenaran sejarah secara utuh.
Menurutnya, pelestarian sejarah sambas bukan hanya tanggung jawab moral secara komunal saja tetapi juga memiliki dimensi hukum yang harus diperhatikan secara agar tidak terjadinya pelencengan sejarah.
> “Sejarah dan budaya merupakan bagian dari identitas bangsa yang harus dijaga keutuhannya. Dalam perspektif hukum, ada tanggung jawab bersama untuk melindungi warisan ini agar tidak hilang atau disalahgunakan oleh pihak pihak yang memiliki interest pribadi saja,” jelasnya.
*Kolaborasi Tokoh Jadi Kunci Penguatan Budaya.*
Keterlibatan berbagai tokoh dalam perbincangan ini menunjukkan adanya komitmen bersama untuk mendorong lahirnya ruang-ruang edukatif berbasis budaya di Kabupaten sambas.
Seminar “Melukis Kebenaran Sejarah kerajaan Sambas” diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi antara tokoh adat, masyarakat, dan lembaga, guna menjaga serta melestarikan warisan sejarah melalui pendekatan yang lebih kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa sejarah sambas tidak hanya hidup dalam tekstual saja, tetapi juga dalam sejarah bangsa yang mampu berbicara lintas waktu dan generasi.
Asdi AS SE

















