Example floating
Example floating
News

MBG DI SDN 10 SUNGAI KAKAP DIPERTANYAKAN, TANPA SUSU DAN BUAH, PORSI DIPANGKAS TRANSPARANSI ANGGARAN DISOROT

135
×

MBG DI SDN 10 SUNGAI KAKAP DIPERTANYAKAN, TANPA SUSU DAN BUAH, PORSI DIPANGKAS TRANSPARANSI ANGGARAN DISOROT

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

*MBG DI SDN 10 SUNGAI KAKAP DIPERTANYAKAN, TANPA SUSU DAN BUAH, PORSI DIPANGKAS TRANSPARANSI ANGGARAN DISOROT*

Mitratnipolri.id. Kubu Raya, Kalbar. – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah dengan tujuan meningkatkan asupan gizi siswa justru menuai sorotan di SDN 10 Sungai Kakap. Sejumlah orang tua murid dan guru menyampaikan keluhan terkait kualitas, kelengkapan menu, hingga transparansi anggaran paket MBG Ramadhan yang dinilai jauh dari standar gizi seimbang.

Example 300x600

Program MBG edisi Ramadjan dibagikan dalam bentuk rapelan tiga hari dan diperuntukkan untuk dibawa pulang sebagai menu berbuka puasa. Namun, isi paket yang diterima siswa disebut tidak sesuai dengan daftar menu yang tertera pada kemasan.

*TANPA SUSU DAN BUAH, GIZI DIPERTANYAKAN*

Nana, salah satu orang tua siswa, mengaku kecewa dengan isi paket yang diterima anaknya. Ia menilai komponen penting seperti susu dan buah justru tidak disertakan.

“Kalau namanya makan bergizi, apalagi untuk anak-anak yang sedang puasa, seharusnya lengkap. Minimal ada susu atau buah. Ini tidak ada sama sekali,” ujarnya, Selasa (24/2/2026).

Menurutnya, bulan Ramadan justru menuntut perhatian ekstra terhadap kebutuhan nutrisi anak. Setelah seharian berpuasa, asupan berbuka seharusnya membantu memulihkan energi dan menjaga daya tahan tubuh.

Keluhan serupa disampaikan seorang guru yang enggan disebutkan namanya. Ia menilai komposisi paket tidak mencerminkan konsep “bergizi” sebagaimana digaungkan dalam program tersebut.

“Di kemasan tertulis Menu Ramadan Rapelan 3 Hari. Tapi yang diterima siswa hanya sebagian item. Tidak ada kuah, tidak ada saus, tidak ada buah, tidak ada susu. Anak-anak makan apa?” katanya.

Padahal, dalam daftar menu tercantum tahu bakso, ayam ungkep, siomay ayam, telur puyuh, telur ayam, roti abon, dan roti isi kacang hijau. Namun realisasinya, beberapa komponen tidak ditemukan dalam paket.

*PORSI DIPANGKAS, SATU PAHA JADI DUA*

Persoalan tak berhenti pada kelengkapan menu. Guru tersebut juga mengungkap adanya perbedaan pemahaman terkait porsi ayam saat pengawas dari pihak penyedia datang ke sekolah.

Menurutnya, sempat disebutkan bahwa satu potong ayam diperuntukkan untuk dua hari. Padahal, paket tersebut jelas tertulis untuk tiga hari.

“Satu paha ayam dipotong dua, bukan dua potong utuh. Disebutnya untuk dua hari, padahal ini paket tiga hari. Ini yang membuat kami bingung,” tegasnya.

Pengurangan porsi tersebut dinilai semakin memperlemah kualitas asupan protein hewani yang seharusnya menjadi komponen utama dalam program peningkatan gizi anak sekolah.

*SUSU DIHILANGKAN SELAMA RAMADHAN*

Komponen susu yang sebelumnya disebut menjadi bagian penting dalam setiap paket MBG justru tidak lagi diberikan selama Ramadan.

“Selama Ramadan ini tidak ada susu,” ujar sumber dari pihak sekolah.

Padahal, susu dikenal sebagai sumber protein, kalsium, dan vitamin yang penting bagi pertumbuhan anak usia sekolah dasar. Hilangnya komponen tersebut memunculkan pertanyaan serius: apakah ada perubahan kebijakan atau sekadar efisiensi sepihak?

*ANGGARAN BERBEDA, PUBLIK MINTA KETERBUKAAN*

Isu lain yang mengemuka adalah soal besaran anggaran per anak. Informasi yang diterima pihak sekolah menyebutkan alokasi Rp8.000 per anak untuk kelas 1 dan 2, serta Rp10.000 untuk kelas 4 hingga 6.

Namun sebelumnya beredar informasi bahwa anggaran MBG mencapai Rp15.000 per anak.

“Dulu kami dengar Rp15 ribu per anak. Sekarang berbeda. Ini membuat bingung,” kata guru tersebut.

Dengan nominal Rp8.000 hingga Rp10.000 untuk paket tiga hari, para orang tua mempertanyakan realistiskah memenuhi standar gizi seimbang, apalagi tanpa susu dan buah.

*SEKOLAH TEGASKAN HANYA DISTRIBUTOR*

Pihak SDN 10 Sungai Kakap menegaskan bahwa sekolah hanya bertugas menerima dan menyalurkan paket MBG kepada siswa. Pengadaan, penyusunan menu, serta pengelolaan anggaran bukan menjadi kewenangan sekolah.

“Kami hanya mendistribusikan. Soal menu dan anggaran bukan ranah kami,” ujar perwakilan sekolah.

Pernyataan tersebut sekaligus menegaskan bahwa tanggung jawab kualitas paket berada pada pihak penyedia dan instansi yang mengelola program.

*DESAKAN MENYELURUH EVALUASI*

Menanggapi kondisi tersebut, orang tua dan guru mendesak dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG Ramadhan, khususnya di wilayah Sungai Kakap.
Mereka meminta:

– Kejelasan standar gizi yang digunakan.
– Transparansi anggaran per anak.
– Pengawasan ketat terhadap kualitas dan kuantitas menu
– Pengembalian komponen susu dan buah dalam setiap paket.

Program yang semestinya menjadi solusi peningkatan gizi anak sekolah jangan sampai berubah menjadi sekadar formalitas administratif tanpa substansi.

“Kalau ini disebut makan bergizi gratis, harus benar-benar bergizi. Jangan hanya nama,” pungkas salah satu wali murid.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak penyedia maupun instansi terkait mengenai perubahan menu dan alokasi anggaran MBG Ramadan di sekolah tersebut.

Asdi AS SE

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *